Perempuan dan Emansipasi Yang Kebablasan!

21 Apr 2009

Hari ini, 21 April 2009, katanya diperingati sebagai hari Kartini. Banyak yang mampir ke blog saya mengucapkan selamat hari kartini, pun di FB saya dan diplurk, semua ramai-ramai mengucapkan selamat Hari Kartini.

Saya bingung kenapa saya yang diselamatin?… Apakah saya berulang tahun???…, Tidak, saya tidak sedang berulang tahun, dan saya tidak sedang merayakan kemenangan saya atas lotre apapun.

Lalu kenapa juga semua orang latah memberikan selamat kepada saya?. Atas nama emansipasi wanita kah??? Wow makin amaze saya akan default semua orang Indonesia bahwa Hari kartini identik dengan KEBAYA dan KARNAVAL.

Ok, kalo karnaval, well anggaplah sebagai moment untuk mendekatkan dan memperkenalkan pada anak-anak budaya Indonesia. Soalnya kapan lagi bisa pake baju kebaya, kalo bukan hari kartini.

Tapi kenapa juga harus KEBAYA???

Apa karena Ibu Kartini orang jawa?

Kalo gitu orang yang bukan jawa tidak bisa diucapin selamat hari Kartini dong. Khan gak kebayaan, gak ngondek pulak, hehehe.

Ada yang bilang:

Loh, bodoh banget sih loe, khan loe merayakan hari lahirnya kartini,

Emang loe tahu kenapa kita ngerayain hari kartini?…

Ya karena lahirnya tgl 21 April, dia khan pejuang emansipasi wanita

Tahu gak loe emansipasi wanita itu apa?

Errr, persamaan hak bukan? Maksudnya kalian perempuan menutut hak yang sama dengan laki2, begitu khan?

Well, gue yakin temen gue ini asal nyablak doang.

Setuju bahwa hari Kartini kita peringati sebagai munculnya gerakan yang membela disikriminasi terhadap perempuan, yang tadinya tidak diperbolehkan sekolah tinggi-tinggi dan mesti dipingit.

Saya juga kagum kok sama pikiran2 beliau. Tulisan2nya yang indah namun penuh kedalaman, … bisa menginspirasi banyak orang untuk mempergunakan kelembutannya sebagai kekuatan.

Kartini bisa keras tapi tetap santun,… serta mampu menunjukkan harga dirinya sebagai wanita dari bangsa yang terjajah.

Sebelum saya terusin, coba baca tulisan dony deh tentang Door Duistermis tox Licht - Habis Gelap Terbitlah Terang disini

Nah, saya rangkum sedikit yang menjadi esensi surat2 kartini kepada sahabatnya itu

Dalam surat-suratnya, Kartini menggambarkan bahwa perempuan-perempuan Jawa dimasa itu terkungkung dan tidak dapat bersekolah karena adat yang mengharuskan perempuan untuk patuh pada semua perintah adat. Perempuan Jawa tidak bebas bersekolah dan tidak boleh menolak jika dijodohkan dan dinikahkan diusia belia dengan laki-laki yang tidak dikenal sama sekali. Bahkan tidak hanya itu, perempuan Jawa harus bersedia dimadu. Bagi Kartini, sungguh menyayat hati menyaksikan perempuan jawa, hidupnya hanya sebatas tembok rumah. Kartini sempat bersekolah di ELS (Europese Lagere School) namun hanya sampai usia 12 tahun, setelah itu dia harus tinggal dirumah karena harus dipingit. Kartini menuliskan cerita-ceritanya pada sahabatnya, dan keprihatinannya pada keterkungkungan perempuan jawa ini.

Pertanyaan saya kemudian adalah apakah perempuan jaman sekarang masih diperlakukan demikian saat ini? Masih dikungkung dan dipingit? Rasanya sih tidak.

Selain issue poligami dan marginalitas perempuan didaerah pedesaan, sepertinya hal-hal diatas ini sudah tidak kita alami, terutama diwilayah perkotaan.

Kita sudah bebas bersekolah bahkan bebas menentukan apakah kita mau jadi perempuan yang cerdas, atau perempuan yang lemah, semua itu ada ditangan kita.

Gerakan emansipasi ini menurut saya sebagai perempuan Indonesia,.. telah berjasa besar dalam menghantarkan kaum wanita Indonesia menuju mimbar kehormatan dan gerbang kebebasan.

Tapi harus dipahami bahwa kebebasan bukan berarti kebablasan.

Coba perhatikan realita yang berkembang ditengah-tengah kehidupan modern ini, perempuan-perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata bukan?, Perempuan-perempuan sudah diberi kesempatan yang sejajar dengan kaum pria lebih dihargai dan bankan lebih dihormati.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sudah banyak perempuan yang menempati puncak kepemimpinan dalam meniti karier, pendidikan, bahkan jabatan melebihi kaum pria.

Coba lihat wanita2 hebat dinegri ini:

  1. Mari Elka Pengestu (Ekonom Indonesia kelas dunia)
  2. Evelyn Listya Atmaja (GM Marketing & Sales PT. Indofood SM)
  3. Susi Susanti (Peraih piala Emas Olimpiade Barcelona 2002)
  4. Miranda Goeltom (Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI).
  5. Siti Fadila Supari (mentri Kesehatan )
  6. Sri Mulyani (Ekonom kelas dunia juga) *udah dibenerin nihhh*
  7. Diandra Paramitha Sastro Wardoyo (Artis cerdas dan intelek)

Mereka tidak pernah berkoar-koar menuntut persamaan hak Mereka menjadi PELAKU emansipasi, dengan membekali diri mereka sendiri dengan Keahlian, Pengetahuan dan Wawasan berfikir yang luas, tanpa menuntut untuk selalu diistimewakan.

Yang terjadi sekarang Emansipasi berkembang menjadi RADIKAL. Sebegitu radikalnya sampai kadang kebablasan.

Perempuan minta diberi hak untuk kesamaaan gender dengan pria. Okay bagaimana jika perempuan disuruh masuk hutan, jadi sopir angkot, jadi tukang semir sepatu, bahkan tukang sembelih hewan. Kalo bisa memilih, mereka akan memilih pekerjaan yang lebih cocok untuk perempuan, dengan segala kelebihan dan keterbatasan kita sebagai perempuan.

Emansipasi yg kebablasan itu ketika Perempuan ingin melakukan apa saja yang mereka mau dengan sebebas-bebasnya. Kebebasan itu hampir tanpa takaran seakan ingin melawan hakekat kodrati wanita. Begitu kebablasannya, sehingga esensi emansipasi yang mestinya menghormati hak yang sama antara pria dan wanita, sering terkesan tidak menghormati hak pria.

Akan terasa lucu bukan ketika kita sibuk berkoar-koar meminta kesetaraan gender, minta diberi kesempatan untuk disamakan dengan pria, tapi teteup masih minta dibuatkan LADIES PARKING dan minta diberi CUTI HAID selama 3 hari :P

Minta di beri kesempatan untuk memimpin negara tapi menuntut untuk dimengerti ketika moodnya swing-swing dan bawaannya melow2 *salahkan PMS bu*:P

Ahhh, saya setuju untuk kesetaraan gender, tapi tidak setuju jika perempuan bisa sama dengan laki-laki. Coba anda bisa jadi kuli bangunan gak?… Bisa gantiin laki2 jadi montir gak?… Jadi Nelayan?… Kalaupun bisa, pasti karna terpaksa, karena keadaan, bukan karena cita-citanya pengen jadi nelayan atau tukang batu.

Biar bagaimanapun perempuan itu sumber kelembutan, dan kekuatan TERBESAR perempuan terletak pada kelembutannya. Jadi tidak usah menuntut untuk harus sama kuat dengan laki2, karena sampai kapanpun kita memang tidak akan pernah menggantikan posisi laki-laki.

WE ARE PARTNER.

And we mend to be together as a partner in life… to COMPLETE one another’s life.

Semoga berkenan,

Silly


TAGS perempuan Emansipasi kebablasan


-

Author

Follow Me