Perempuan dan Cinta Yang Tak Terkalahkan

24 May 2009

Aku tidak pernah berfikir apa-apa ketika satu malam tiba-tiba anakku yang baru berusia 1tahun 8 bulan tiba-tiba terserang kejang tanpa sebab yang jelas.

Saat itu aku sedang berada diluar rumah. Aku benar-benar panik ketika menerima kabar ini… Suamiku saat itu sedang bertugas keluar kota,.. dan dirumah hanya ada pembantuku, si mbok dan baby sitter anakku.

Dalam keadaan panik aku ngebut sekencang-kencangnya. Aku tidak tahu lagi berapa kilometer perjam kupacu mobilku saat itu. Padahal jujur, jangankan ngebut… untuk nyetir aja aku masih suka takut-takut.

Rupanya aku tidak cukup cepat karena begitu tiba dirumah, pak satpam mengabari aku kalau anakku sudah dibawa oleh tetanggaku ke Rumah Sakit.

Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Aku masuk kedalam rumah,… mengambil perlengkapan bayi yang mungkin akan dia butuhkan selama di Rumah Sakit… Entahlah, aku tidak tahu apa yang ada di kepalaku waktu itu, yang jelas aku benar-benar linglung.

Dalam bayanganku, anakku sudah tiada, dan mungkin akan butuh pakaian yang layak untuk dia pakai menghadap Bapa-nya di Sorga….

Sambil berurai air mata… kukumpulkan pakaian terbaik yang anakku punya.

Masih segar dalam ingatanku ketika itu, simbok pembantu dirumahku menangis meraung-raung, menangisi anakku yang ketika itu disangkanya sudah tidak bernyawa lagi.

Dari cerita si mbok yang akhirnya aku angkut juga ke RS,.. tubuh anakku sempat kejang-kejang beberapa saat, sebelum akhirnya menegang,… dan hanya mata putihnya saja yang terlihat. Matanya mendelik dan dari mulutnya keluar busa… :(

Oh Tuhan, ibu mana yang tahan mendengar berita seperti ini.

Sambil menangis memohon-mohon pada Tuhan untuk diberi sedikit lagi kesempatan untuk memeluk anakku dalam keadaan masih bernyawa…. aku ngebut dengan kecepatan yang mungkin seumur hidup tidak akan pernah lagi aku lakukan.

Tiba di RS, aku segera ke ruang UGD, dan menemukan anakku sudah tergolek lemah disertai selang oksigen yang menempel di hidungnya.

Tubuhku lemas, aku terduduk kelantai dengan lunglai. Ternyata aku pingsan.

Aku baru sadar ketika lamat-lamat kudengar suara Ibu Sandra tetanggaku yang sedang berbicara dengan lembut padaku, memanggil namaku sambil berdoa terus menerus disampingku.

Aku terduduk, tiba-tiba teringat anakku, dan dengan panik langsung menjerit-jerit memanggil nama anakku. Dokter dan bu Sandra menyuruh aku tenang, dan menunjuk kearah bayi yang terkulai lemes ditempat tidur masih beserta selang oksigen yang tetap menempel dihidungnya.

Aku menangis, mendekati anakku dan mendekap tubuhnya erat-erat dari belakang. Aku menjerit meraung-raung memanggil nama Tuhan… berharap dia membuat anakku sadar kembali.

Amazingly, anakku bergerak dan menatap mataku, lalu dengan tenang tidur kembali.. seolah ingin menyampaikan kalau ia baik-baik saja, hanya butuh tidur untuk memulihkan tubuhnya.

Kudekap erat anakku… berusaha menyalurkan energy afeksi yang aku punya kedalam tubuh anakku.

Ah, bahagia sekali rasanya mendapatkan dia kembali.

Aku menoleh ke Ibu Sandra, Ya Tuhan terima kasih. Kalau bukan karena dia, anakku mungkin tidak tertolong lagi.

Aku baru nyadar beberapa saat kemudian kalau dia tidak memakai alas kaki/sendal Dan ketika aku menoleh ke kakiku aku juga bertelanjang kaki ternyata. Sepatu yang aku kenakan tadi rupanya aku lepas ketika aku tiba di rumah, dan lupa memakainya kembali.

Dokter menyatakan bahwa anak kecil itu biasanya memang sering kejang, namun umumnya disertai panas. Anakku ketika itu tidak panas sama sekali, sehingga dokter menyarankan untuk melakukan tes EEG (rekam otak) pada bayiku.

Test tersebut tidak aku lakukan mengingat setelah peristiwa itu, anakku biasa-biasa saja, dan tidak mengalami kelainan apapun.

***

TERDETEKSI AUTISTIK

Belakangan ketika anakku mulai menurun progressnya, mulai menghindari kontak mata denganku, mulai stop memanggilku mama… mulai menolak untuk dipeluk, mulai fokus hanya pada dirinya sendiri, suka benda yang bulat dan berputar, dan yang paling membingungkanku adalah kebiasaannya yang mulai sering membenturkan kepalanya ketembok manakala dia marah atau mengamuk, aku tiba-tiba sadar… ada yang salah dengan anakku.

Duniaku serasa berhenti berputar ketika akhirnya setelah bertanya pada 5 orang dokter, mereka sepakat menyatakan bahwa anakku Autis.

Aku terdiam, pause sejenak, karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mulai menyalahkan Tuhan, mulai menyalahkan orang-orang disekelilingku, dan mulai menyalahkan diriku sendiri.

Hatiku pedih manakala melihat anakku sibuk dengan mainan yang bulat dan berputar, disaat teman-teman sebayanya justru bermain bersama, berlarian sambil tertawa.

Hatiku teriris pilu manakala menyaksikan anakku menangis, mengamuk atau bahkan tertawa tanpa alasan yang jelas.

Hatiku terluka, manakala melihat anakku memukul-mukul dadanya karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika dia sedih akan kehilangan sesuatu.

Dia hanya berharap, dengan memukul dadanya, rasa sakit dihatinya itu akan hilang… dan itu sungguh menyakitkan untukku.

Aku menangis, ketika kenyaksikan tangannya distrika dengan strikaan yang masih panas, meski sudah disembunyikan dibalik lemari (mungkin karena penasaran dan mengira setrika itu adalah mainan yang dimainkan maju mundur).

Ingin rasanya hati aku menjerit sekencang-kencangnya manakala melihat asap yang mengepul dari balik strikaan diatas tangan anakku, dan menyaksikan sebagian kulit tangannya masih menempel pada strikaan.

Berkali-kali aku nyaris pingsan manakala tahu-tahu dia mencelakai dirinya sendiri, paha dan telapak tangannya kena knalpot, dan dia nyaris tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Kepalanya sobek karena terbentur batu, dan harus dijahit sebanyak 8 (delapan) jahitan, dan tidak mengeluh sakit.

Oh Tuhan, betapa takutnya aku menghadapi masa depan anakku.

Apa yang akan terjadi padanya, bagaimana jika aku tidak ada disampingnya kelak, apakah dia akan baik-baik saja?

Sedih rasanya membayangkan dia tidak mampu berbicara, karena sampai usia 4 tahun, anakku masih belum bisa berkomunikasi dengan baik. Bahkan untuk sekedar membantu dirinya sendiri (self help) buang air besar di toilet pun dia tidak bisa. Sampai sekarang anakku masih buang air besar dicelananya.

Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya, karena aku tidak punya keahlian apa-apa. Aku hanya tahu, setiap hari, hidupku selalu dipenuhi sukacita ketika melihat anakku bertumbuh dengan progress yang luar biasa.

Dan modalnya hanyalah sebuah pelukan.

Ya yang aku punya hanyalah sebuah pelukan Pelukan yang akan mengalirkan energy dalam bentuk kasih sayang yang tulus untuk anakku.

Ketika dia tantrum, dia akan bertindak sangat destruktif dan berusaha menyakiti aku atau dirinya sendiri. Aku cuma memeluknya…

Berkali-kali dia memukul-mukul dadanya atau membenturkan kepalanya. Kadang ke dinding, kadang ke lantai, kadang ke tubuh aku, atau kewajah aku ketika aku sedang memeluk dia dari belakang. Aku Cuma memeluknya dengan erat.

Kepala belakangnya dibenturkan tepat mengenai tulang pipiku sehingga pernah sekali waktu wajahku lebam seperti habis kena pukul… Namun aku tetap memeluknya…

Memastikan bahwa dia tahu aku mengerti apa yang dia rasakan.

Memastikan bahwa dia tahu aku memahami rasa sakit hatinya.

Memastikan bahwa dia tahu kalau aku tahu, keadaan ini sungguh sangat tidak nyaman untuknya

Dan memastikan bahwa, dalam ketidaknyamanannya itu, ada aku yang selalu akan memeluknya, dan menyalurkan energi kasih sayang yang aku punya, untuk mengobati hatinya..

Yes, a hug can ease the pain inside.

Mari kita berdiam saja anakku, nikmatilah pelukanku, ijinkan pelukan ini mengobati lukamu, dan biarkan kehangatannya mengalir dalam tubuhmu

Anakku, mama sayang banget sama kamu Mama mungkin tidak pandai memenuhi semua kebutuhan khusus kamu, tapi mama akan selalu ada untukmu, ketika kamu membutuhkan sebuah…

Pelukan…

Jakarta, 10.04.2009

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang tua anak-anak autis yang masih berjuang menghadapi anak mereka. Anakku, praise the Lord, sudah jauh berkembang pesat, berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara sangat fasih, dan sudah tidak pernah tantrum lagi. Yang terpenting adalah dia sudah bisa bersosialisasi dengan lingkungannya, dan dalam beberapa hal sudah sangat mandiri. Bahkan melebihi anak normal lainnya. Fyi, Anakku HFA (high functioning Autism), sehingga dia bertumbuh menjadi anak yang sangat cerdas, terutama terhadap metode pengajaran yang berupa visualisasi.


TAGS Anak Autistik pelukan kasih sayang afeksi


-

Author

Follow Me